Friday, March 26, 2004

sebuah cerita tentang sepenggal kisah yang tersisa
tercecer dalam sebuah wadah penantian yang percuma
merindukan bulan walau cuma tinggal setengah
teringat kisah tiga seperempat purnama

gelap langit gambaran nasib
iringan awan tarian memuakan
celoteh gagak bukan lagi ungkapan kerinduan
sedang bangkai haturkan keharuman

cinta bukan sekedar lelehan peluh semata
kerinduan gejolak jiwa yang terbebaskan
rintihan panjang tanda kepuasan
ceceran cinta di peraduan

tanpa beban lepaskan perkara
aku terdiam
aku terbisu
menyaksikan semua terus berlalu

awal maret 2004

aku berjalan di tepian jurang kehancuran, melangkah setapak demi setapak untuk sekedar menyusuri tepian jurang ini sembrai memandang sisi-sisi kehancuran yang terlihat dari tepian jurang ini. sungguh tanpa hambatan sedikitpun aku temui di sisi jurang ini, sementara di sisi jurang sebelah sana orang berbondong-bondong menjauhi bibir jurang untuk mengejar sisa-sisa pancaran matahari harapan yang tenggelam di telan mega-mega yang semakin menghitam, dan aku dari sisi yang lainnya, seorang diri berjalan sembari melihat apa yang sedang mereka lakukan dengan sesekali menengok seberapa dalam kehancuran yang ternganga di kegelapan jurang di sisiku sendiri.
aku terus berjalan menyusuri kesepian tepian jurang kehancuran ini, dengan sesekali mengulurkan tangan kedalam jurang, untuk sekedar menyapa beberapa orang yang sedang bertapa di sana, orang-orang yang sama denganku, yang dahulupun mereka cuma berjalan di sisi jurang ini, dan akhirnya ada di antara mereka terpeleset jatuh, di paksa jatuh dan dijatuhkan, atau bahkan ada juga di antara mereka yang tanpa sadar justru menjatuhkan diri mereka sendiri ke dalam kegelapan jurang itu sendiri, sedang aku masih seperti biasanya, berjalan seorang diri di tepian jurang ini dengan sesekali melambaikan tangan ke sisi jurang yang lainnya untuk sekedar mencari teman dalam kesepian yang aku sendiri tidak pernah tahu bagaimana bentuk yang sebenarnya itu.
aku berhenti di sebuah tikungan kecil di salah satu pojokan dari jurang yang teramat gelap dan salam itu, tapi masih berada di sisinya tentu saja. aku ambil bangku dan duduk di sana, tentu saja sendirian dan hanya di temani sahabat karibku yangtak pernah bermimpi utuk tega meninggalkanku kesepian dalam kesendirian, dan aku bercengkrama dengan kesunyian menyanyikan kesepian dan cinta yang tak pernah ada habisnya tapi belum pernah aku temukan bentuknya itu, dan aku pun tertawa sesekali untuk sekedar melolongkan suara hati yang tak pernah sepi dari buaian angan akan cinta yang tentu saja aku belum pernah sekalipun berjumpa ataupun sekedar berkenalan dengannya, dengan cinta tentu saja.
aku semakin larut di dalam perhentianku itu, orang-orang mulai berkumpul di tepian jurang itu, tapi aku berusaha membubarkan mereka, bukan apa-apa, aku takut terdorong ke dalam jurang itu, bukan, sebenarnya bukan takut, atau ya, ya aku memang takut, aku belum hancur, aku ada di tepian, bukan di dalam, dan aku berada di sini bukan untuk terpeleset ke dalamnya, aku cuma mau menemani mereka yang ada di dalam dan sesekali mengulurkan tangan buat mereka untuk sekedar merasakan kehangatan cinta kasih yang belum lagi aku temukan bentuknya tapi aku bisa berkata bahwa aku jatuh cinta pada kesepian yang membuatku seakan-akan atau mungkin memang sebenarnya aku gila, ya, aku gila akan cinta, gila.

bau lumpur
deru air
tangan menggapai
dan nafaspun tersengal
untuk sekedar bertahan hidup
dalam kepungan banjir desaku

tanggul jebol
jembatan ambruk
rumah runtuh

jerit tolong tiada arti
bantuan datang setelah banyak yang mati
segala macam caci sudah tak berarti
dan segala asa hanya terlontar di dalam hati

hidup atau mati
sekedar pilihan yang di sisahkan
dan sepertinya mutlak di paksakan
jadi apa artinya sebuah pilihan?

Monday, March 22, 2004

aku kabarkan pada kalian semua bahwa sawah-sawah di kampungku sudah mulai panen padi, butiran padi yang menguning padat berisi sudah mulai di sabit dan menerima pinangan tangan para petani yang giat dan rajin merawat mereka sepanjang musim tanan kemaren, semangat cinta kasih yang terus bergelora tanpa kenal lelah untuk kemudian berbaur dalam tawa di saat panen tiba, cinta yang tumbuh dalam sepinya sawah-sawah mereka dan terus tumbuh seiring dengan berjalannya waktu, tanpa pernah beranjak dari tempat dia memulai dan mengakhiri segalanya.
dulu aku sering berduaan dengan adikku di pematang-pematang sawah, berdua memandangi sawah-sawah desaku yang subur makmur, tak bosan-bosannya memandangi hijaunya padi yang baru di semai oleh para petani yang rajin itu. dulu adikku paling suka berkejaran dengan capung-capung sawah, terkadang dia menyelipkan bunga padi di antara rambutnya yang hitam tergerai, sungguh kenangan yang indah.
dulu adikku paling suka duduk di bawah pohon mangga yang ada di pinggir pematang sawah sambil menuliskan beberapa puisi yang indah, menyatukan diri dalam kesepian sawah-sawah desaku untuk sekedar menyerap segala kekuatan imajinasi yang di suguhkan salam kesepian itu sendiri.
tapi itu cuma sepengal cerita yang entah kapan di mulainya, juga aku sendiri tidak bisa memastikan kapan semua keceriaan itu berakhir dengan sendirinya, yang aku ingat mungkin sekitaran tengah tahun pada dua tahun yang lalu segala keceriaan itu pudar dengan perlahan, berawal ketika adikku di saat menyendiri di tengah pematang sawah di pagi hari yang cerita terkena gigit ular berbisa yang biasa menemani dia dalam kesendirian.
pada awalnya adikku begitu akrab dengan ular itu dalam impian dia, sering dia menceritakan padaku betapa baik ular belang yang dia kenal lewat mimpi tengah malam itu, mereka saling bercerita dan saling mencinta tapi hanya dalam mimpi saja, sampai pada suatu ketika adikku bercerita bahwa ular itu berjanji akan menemuinya di pematang sawah tempat biasa dia menemui adikku di dalam mimpinya. dan tentu saja adikku dengan semangatnya menceritakan semua itu kepadaku, sungguh bahagianya memandang wajah adikku saat itu, penuh pancaran cinta kasih dan kerinduan yang amat sangat tulusnya.
waktu aku bilang dia harus hati-hati dengan berbagai macam ular dengan segala bentuk nya itu, dia cuma merengut dan bilang kalau aku hanya cemburu pada ular kekasih dia itu, padahal sungguh aku tidak pernah mempunyai perasaan itu, aku cuma takut adikku tersakiti, karena bagaimanapun aku sangat-sangat menyayangi adikku yang semata wayang itu.
akhirnya segala apa yang aku takutkan itupun terjadi, ular yang dia begitu-begitu rindukan dalam hayalnya, walau pada awal pertemuan mereka menunjukan betapa-betapa sangat-sangat menunjukan wajah cintakasihnya pada adikku, akhirnya melilit, menggigit dan mencabik-cabik seluruh cinta kasih yang adikku punyai, dengan bisanya di sakitinya adikku, dengan mulutnya, dilumatnya mulut adikku, dengan tubuhnya, di tindihnya adikku, dan dengan segala macam suara desisnya, di buainya adikku, dan setelah itu dia pergi begitu saja setelah adikku tergeletak tanpa daya di pematang itu sendirian, itu hampir dua tahun yang lalu berlalu, dan adikku masih terkapar tak berdaya, walau adikku masih sangat-sangat merindukan ular itu untuk kembali, walau itu tak mungkin terjadi, atau hanya sang waktu yang akan memberikan belas kasih, hingga ular itu suatu saat nanti bisa kembali dengan segala cinta kasih atau mungkin dengan segala bisa dia yang telah terbaharui. entahlah, aku hanya menuliskan kisah ini untuk sekedar menghilangkan kesepian dan untuk menghibur para petani yang rajin dalam manuai padi, agar hati-hati, yah, hati-hati.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Top Web Hosting | manhattan lasik | websites for accountants